Dan Aku Masih Menangis

ini sebuah cerita jeritan sang putri, dari ujung negeri sana....


....... ya Rabb.............


dan aku, sampai detik ini, masih ingin menangis


menangis, sekencang-kencangnya... sekeras-kerasnya...


tapi, hambaMu tak mau jika orang d dunia ini, mendengarnya...


Rabb, sampaikan... sampaikan...


 



biarlah  tiap tetes air mata ini, menjadi butiran mutiara yang kan terbagi kelak


kelak ku, ingin ku sampaikan hanya padaMu, dan padaNya


tentang sejuta cerita ini


sejuta rasa ini


 


Rabb....


Maafkan aku,,,,,


 


Rabb....


Kau lah, pembolak-balik hati....


setiap sujudmu, hambaMu, selalu, inginkan, dia pergi, menghilang.....


tetapi, mengapa, masih kau sampaikan dalam ingatku....


 


Rabb....


izinkan hambaMu, menangis sepeluh-peluhnya...


hambaMu, yang penuh dosa dan nista....


semoga airmata ini, menjadi penenang segera dan selamanya....


 


Rabb...


Aku rindu Engkau.......


 



 



Puisi tak Berjudul

 


Izinkan hamba bersimpuh di depanMU,

Izinkan hamba istiqomah menyebut asmaMU,

Biarkan bibir ini mengalir lantunan dzikir indahMu,

Biarkan mata ini membuka melihat setiap kebesaranMu,

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Rimpah sayah, mengucur ke kerling

Hilang bertumpu, tiada berbekas,

Indahnya tak berseberangan

Hanya tergores rimbauan debu

 

Tergolekkan tanah, terbujurkan pirang

Nestapa kalut, berubah kabut

Bak samudra yang luas

Entah mendayung di mana

 

Pesan sang Umur







Di derap malam yang indah


Ada bintang menemaniku


Tak cukup satu bintang


Ribuan bintang lain pun menyambutku


Bagai putri dengan para pengawalnya


Senantiasa berada disisinya


Menemani........


Menjaga.....


Memberikan senyuman...


Kedamaian,


Kehangatan,


Dan kebahagiaan.....


 


Malam yang lain...


Ini malam terindah, karena....


Malam ini, hanya kutemukan 1tahun sekali,


Jikalah itu sempat kelak hari...


Malam bergantinya tahun usiaku...


Usia yang kadang melenakan,


Usia yang kadang menjerumuskan,


Usia yang kadang mendustakan.......


 


Bukan, bukan usia.......


Tapi ini aku,, yang membuatnya bersalah...


Usia sangat baik, menemani, memberi semangat hidup,


Karena ku yakin hari esok, usia kan menjemputku


Tuk berpetualang.


 


Namun umur, cemburu, dia mengingatkan.....


Bahwa usia itu licik, dia bersandiwara, aku dikhilafkan..........


Umur berkata, “bahwa aku tak akan lama di sini,


 waktu kita berkurang sedikit demi sedikit,


perlahan lahan”,


Umur berkata, “tak ingatkah, ada yang sedang menunggumu, tuan....”


“Siapa???”, tanyaku,,,,,,,


Yang sangat mencintaimu,,,


Yang tahu segalanya tentang dirimu,,,


Dialah yang menciptakanmu.......


Tak ingatkah, dia sangat merindukanmu???


Ini hanyalah bonus waktu yang Ia berikan,


Agar kau mampu membeli tiket ,


Tuk dapat temuniNya...


 


Lalu, masih maukah kau mendustaiNya??


MeninggalkanNya??


Lama Ia menunggumu,tuk liat prestasimu.


Hadiahmu untuk orang tuamu,


agamamu , nabimu, rabbmu, dan


orang-orang yang kau sayangi.....


mampukah kau memberikannya???


Mampukan kau mewujudkannya???


Mampukah kau menyatukannya di firdausNya???


 


Inilah kesempatanmu, di hari ulang tahunmu........


_tertanda, yang mencintaimu, umurmu_


 


 


 


_alone with luph_


night@kos BBs


281209/2335


 


 


Kecupan untuk Rabbku









Sebuah Kecupanku........


Semoga Barokah......


 


Ini langkah awalku,


 perjuangan dimulai,


dakwah akan senantiasa menjulang,


insyaallah,


dengan setetes demi setetes tinta,.


Dengan menyebut nama Rabb...


 


Ya Rabb, indahkan perangaiku,


Indahkan Amalan-amalanku,


Kuncilah lidah ini,


Jika tak mampu menyuarakan takbirMu,


Tutuplah telinga ini


Jika tak mampu mendengar seruan-seruanMu


Kuncilah Mulut ini


Jika tak mampu membaca firaman indahMu


Hentikan langkah kakiku,


Jika tak mampu menuju jalan kebaikanMu,,


Lumpuhkan tangan ini,


Jika tak mampu menggoreskan lafadz-lafadzMu


Hitamkan hati ini,


Jika tak mampu menukir dalam Ke-Esa-Mu...


 


Ya Rabb,,


Jiwa ini akan melangkah, ke dunia yang lebih menantang,,


Tunjukilah jalan kebenaranMu,


Istiqomahkan langkahku,


Tuk berdakwah di jalanMu,


Kumandangkan sunah dan kewajiban,


Sedikit demi sedikit,


Dalam goresan tinta yang lebih indah dan bermakna


Yang tak hanya untukku, tapi untukMu, dan umatMu...


Dengan penuh harap, kecuapn ini kupersembahkan hanya untuk


Rabbku............


 


_alone withluph_


@labphysic,yk


031209/1115


Pesan untuk kakak









Message for kakak....


 


Kakak, angkat telepon ana.... angkat.....


Tak dengarkah engkau, adikmu disini sendiri,


Tak dengarkah engkau, adikmu disini butuh kehadiranmu,


Tak dengarkah engkau, adikmu disini ingin kau dengarkan semua cerita-ceritanya....


Tak dengarkah,


Adikmu di sini, ingin kau beri nasihat-nasihat terindahmu...


 


Kakak...


Angkat telpon ana....


Tak tahukah engkau, adikmu disini menangis sendiri....


Tak tahukah engkau, adikmu disini tak mampu tegak berdiri...


 


Kakak....


Telepon balik ana....


Adikmu sangat ingin kau ber sejuta peluh kasih sayangmu,,


Sejuta indah senyumanmu,,


Sejuta saran tuk damaikan hati,,


Sejuta semangat, tuk hadapi rintih perih peluh ini....


kakak, semoga kakak, masih mengingat adikmu ini....


 


_dengan penuh harapan untuk kakak_


Teruntuk,, “kakak jelek”


Dari “nag kecil”


301109/1445@bemkmfmipa


 


Jikalah ........




















Jikalah Pada Akhirnya



Penulis: Azimah Rahayu*




 












Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,

Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.



Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa tidak dinikmati saja,

Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.



Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,

Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.



Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,

Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,

Sedang taubat itu lebih utama.



Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,

Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.



Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,

Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.



Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,

Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.



Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,

Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna



Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,

Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,

Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.



Suatu hari nanti,

Saat semua telah menjadi masa lalu

Aku ingin ada di antara mereka

Yang bertelekan di atas permadani

Sambil bercengkerama dengan tetangganya

Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu

Hingga mereka mendapat anugerah itu.





[(Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima di sini)-- (Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia)]





Suatu hari nanti

Ketika semua telah menjadi masa lalu

Aku tak ingin ada di antara mereka

Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah:

Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.





[(Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)-- (Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua?)]





* Penulis adalah Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah DKI Jakarta.