kenapa tak ingin di bonceng??? (1)

"ayo, bonceng aja.... dsaripada jalan... jauh loh..." rama menawarkan boncengan kosongnya...


’ndak.. terima kasih... saya jalan saja... silahkan duluan" jawab rhee pada rama...


....hmm....... (berpikir sedikit....) hmmm ya sudahlah,, aku duluan ya... assalamu’alaykum........




Jeritan Sang Hati Vin









Astaghfirullahal’adzim........


Hari ini hari kedukaanku... mendzolimi diri sendiri...


Entah kenapa, hati ini baru tersadar ketika semuanya sudah terjadi. Ya Alllah, maafkan hambaMu ini. Afwan, aku tak dengarkan nasihat teteh, aku melonjak begitu saja, dan hasilnya, aku yang sakit sendiri.


Benar, buat apa aku sms??? Buat aku katakan itu??? Buat apa aku tanyakan itu??? Dan ternyata, aku sendiri yang sakit. Aku sok berani, terlalu yakin, kalau aku itu dah sembuh, tapi ternyata belum kan??? Kamu belum kuat vin??? Belum kuat untuk mendengar atas semua pertanyaan yang tanyakan ke orang itu. Belum bisa tegar untuk melihat kenyataan yang terjadi...


Terdiam sejenak, dengan mata yang berkaca-kaca...


Lihatlah dirimu, kamu masih rapuh, walaupun kamu tegar. Ketegaranmu belum tertata bagus, masih mudah bengkok. Kuatkan pondasi kamu dulu vin... kuatkan... (jeritan hati ini terus memberontak...)


Buat apa kau beranikan diri tuk menyapanya, jiaka kau tak kuat mendengar semua balasannnya??? Buat apa kau bela-belain, tuk sms malam-malam,sedangkan belum tentu dia segera membalasnya, belum tentu juga apa yang ia sampaikan seperti yang kamu inginkan.


Hati kamu masih lemah, belum mampu berdiri kokoh. Kamu akan segera kuat, jika kau mampu membuang pikiran itu jauh-jauh. Berpositivlah thingking denganNya. Jangan paksakan diri tuk melakukan hal-hal konyol, apalagi itu mendzolimi diri sendiri. .. kamu yang akan sakit sendiri... ingat!!! Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan, selain itu. Kamu yakin akan rencana indahNya bukan???? Percaya lah itu...


Hiraukan semua ucapannya, yang kan bisa buatmu sakit. Pikirkan masa depan kamu...


Hiraukan ucapannnya yang belum jadi kenyataannya. Biarkan semuanya mengalir sesuai dengan keinginan Allah. Ucapan tak cukup, jika belum ada pembuktian.


Jangan sakiti dirimu, wahai hati???


Sembuhkanlah dulu ke”trauma”an kamu, berobatlah ke klinik Allah. Mendekatlah pada sang penjaga hati... biarkan Dia yang sembuhkan lukamu..


Jika kau merasa kesakitan, biarkan air matamu menetes hingga mampu mengobati kesakitan kamu. Biarlah air matamu jadikan bahasa ketegaranmu. Biarkan tetesan air matamu jadikan keshalihanmu, biarkan airr matamu jadi tanda keikhlasan mu, dan biarkan percikan air matamu itu, akan menghapus segala dosa-dosamu, setetes demi setetes.


Ingatlah, Allah di atas sana, Dia sangat menyayangimu... sangat sayang. Mengadulah kapan kau mau.mengadulah ketika malam sunyi, dan Allah benar-benar ada di depan kita, mendengarkan dengan baik keluhan kita, dan mengabulkan semua doa kita. Ingatlah, malaikat di sampingmu kan slalu menjagamu, mendoakanmu, dan menjadi perantaramu tuk sampaikan semua harapanmu kepadaNya.


La tahzan, ya ukhti....


Vin, ingatlah, bintangmu yang jauh disanan sedang tersenyum, melihatmu.... jangan kecewakan dia, dnegn kesedihanmu... 


Tersenyumlah.... ^^


Untukmu vin, dari suara hatimu....


 


_alone with luph_


@kos BBS,Yk


131009/20.24


Cerita si Vin









 


Single Happy, I


 


 


Kak mey, tolong dengerin cerita vin ya…..


Pokoknya bagus dah, tapi inget, mbak, gag boleh, motong sampai cerita ini selesai, habis itu, baru deh boleh kasih komentar.. ok siipp…


Siip dah…


 


Pernah dengar lagu ini??


“I’m single, I’m very happy”


Pasti sangat tahu, yupz, lagu ini di populerkan oleh Opi Andaresta.  Pernah, 1 baris dari lagu ini, saya publish di FS atau FB, hmm, dan cukup  banyak juga yang mempertanyakan pernyataan ini.


Sebenarnya, tak ada yang istimewa, tapi memang kata-katanya yang sangat menarik. Sehingga, sangat mudah memancing banyak pertanyaan dari orang lain. Mungkin itu, sekadar simpatisan, atau pertanyaan, kenapa, kok bisa, emang dengan siapa, kapan atau yang lainnya. Hmmm, pertanyaan yang membuat saya bingung.


Jujur, tak ada kaitannya dengan “pacaran”, atau  apalah, hanya, karena saya suka dengan lagu itu, dan pas dengan kondisi saya waktu itu.


Kenapa ya??


Single, bukan berarti dulu pernah double, (hehehe), tapi ada sih, sedikit relationship (not pacaran), lebih tepatnya HTS-an. Loh??? Ternyata….


Jangan berpikir yang aneh-aneh, dulu. Tapi, memang itulah keanehan saya dulu. Saya dekat dengan siapapun yang saya kenal, mulai dari cewek atau cowok (ya, maaf saja, dulu belum hijrah si…), so, mungkin yang saya anggap, itu adalah hubungan yang biasa-biasa aja, jadinya luar biasa, dari yang tadinya nganggap, teman, jadi kakak adik yang terlalu dekat, padahal bukan muhrim, astaghfirullah…. Ya begitulah, hingga sering terjadi kesalahpahaman, atau percekcokan yang tak berarti, padahal tak ada status pada diri kita. Ya Allah, sampai segitunya ya.


Begitulah saya dulu, hingga akhirnya, karena ada pihak ketiga, yang ternyata lebih dan lebih membutuhkan sesosok itu, akhirnya, saya putuskan untuk tak lagi menjalin komunikasi dengan orang itu. Wow.... tapi, bukan berarti memutus tali silaturahmi, tapi, karena saya menghormati beliau, dan saya tak ingin ada permusuhan dalam hidup ini. Berdoa untuk yang terbaik bagi orang yang kita hormati, kenapa tidak?? Walaupun tak dapat dekat dengan beliau. T.T


No… saya bukan orang lemah… saya bisa tegar, seperti khadijah dan aisyah, yang mampu menantang ombak yang terus menerjang, dan sinar matahari yang selalu menyengatnya.


Ya, lagu inilah yang sangat menghibur saya.


“aku,,, baik-baik saja, menikmati hidup yang aku suka,


Hidupku sangat sempurna,  I’m single, I’m very happy….”


                                                                                                             


Saya sangat ingat, terakhir kali, saya memutuskan untuk tak berkomunikasi lagi, setelah, terakhir kali, beliau bilang, “maaf, sepertinya saya akan benar-benar melupakan semuanya”


Dan saya bertanya, “sedikitpun???”


“iya”


“termasuk tak akan telpon atau sms??”


“iya”


Heuff… sedikit sangat-sangat kecewa, dan teriris-iris, hati ini. Bagaimana tidak, pasti, bisa teman-teman bayangkan, ketika itu, kami sangat dekat, dekat sekali, tiap hari, mungkin bisa telpon, dan sms.


Tapi, karena Allah berkehendak lain, semuanya harus berakhir”


Taukah satu hal yang sangat mampu mengiris-iris hati ini…. Ada orang lain, yang tak mungkin saya musuhi, atau benci, karena beliau saudara muslimah, semuslim, apalagi sama-sama kaum hawa.tetapi, sudahlah, semuanya sudah saya ikhlaskan.


Beliau orang yang lebih paham agama, cita-citanya ingin ke Kairo, sayangnya, kakak dan ayahnya tak mampu berada di sampingnya. Kini beliau sendiri dengan ibunya. Lalu, apalagi yang harus saya halangi??? Bukankah Rosul melarang kita, untuk menyakiti seorang yatim?? Itu lebih baik, dan Allah akan bangga dengan kita, jika kita mampu memberikan yang  mereka butuhkan dengan tangan dan hati yang terbuka.


“Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman 13)


Bukankah akan menjadi nikmat yang tidak terkira ketika kita mampu memberikan apa yang benar-benar sangat ia harapkan? Walaupun itu juga sangat berarti untuk kita. Dan itu akan mampu membuat sakit yang teramat sakit bagi kita. Tetapi, ketika sakit itu diganti dengan kasih sayang Allah yang sangat berlimpah, apakah kita kan mampu menolaknya?? Tidak bukan.


Kembali membuka mata, instropeksi diri, berbenah diri, bahwa ternyata, banyak hal yang perlu kita perbaiki tuk jadi hambaNya yang terbaik. Mampu berikan kebahagiaan kepada orang lain, sekalipun itu sakit buat kita, tetapi kebahagiaan itu tak akan berakhir, dan sakit kita kan segera sembuh oleh CintaNya yang tak kan pernah putus, hilang, atau luntur ditelan masa.


Nice…. Insyaallah jika itu benar-benar ikhlas……..


Keikhlasan, memanglah sulit, tapi jika tak dicoba, kita tak akan mampu.


Biarlah alllah yang jadi sebaik-baik penjaga kita!!!!!!! Insyaalllah, amin. J


 


 


Hmm… sudah teteh…..


“teteh kenapa”, vin terkejut, melihat temannya itu, terus meneteskan air mata


“ada apa mbak??? Ada yang salah?? Hmmm… pasti karena cerita vin bagus kan???  Hehehehe”


“wee…bisa aja si vin ini…”


“gag nduk, mbak terharu dengan ceritamu”


“pintar sekali dirimu, kalu ceritanya, lebih detail lagi, pasti bakalan lebih menarik, ntar kan banyak adegan-adegan yang sangat keren dek, iya kan??’


“ iya ya teh, dan pasti klo diterbitin, bakalan jadi best seller kan??? Hehehe, amin”


“ee…. Lah kog njuk….. semoga aja dah…”


“klo iya, ntar tiap episodenya, mbak harus baca ya…. Jangan lupa dikasih hikmah-hikmahnya, kayak tadi…. Otree…”


“otre… sip3….”


 


Akhirnya, perjalanan mereka, berakhir, dengan kebahagiaan yang mengharukan… tak ada yang tau, bagaimana akhir cerita ini, karena vin lah sang skenarionya. Seperti hidup kita, kadang akan ada banyak problem, tapi kebahagiaan pun akan menyusulnya, tak akan ada yang tau bagaimana riuhnya hidup manusia di bumi ini. Karena Allah lah sang scenario hidup ini. Hanya saja,jika kita ingin jadi hidup yang lebih baik, maka kita juga harus turut serta jadi scenario terbaik hidup kita. Manusia merencanakan, Allahlah yang memutuskan…


Teruslah, bergerak, saudaraku….


Ciptakan hidup terbaikmu tuk duniamu, dan akhiratmu!!!!!!! J


 


 


_alone with luph_


Night @humz


10/10/09, 21.45wib  


 


Syawalan jadi takziyah??









Syawalan Berganti Takziyah (1)


 


Kok bisa???


Tadinya, sudah berharap bahagia akan ada yang nraktir syawalan, kesempatan yang langka, kenapa?? Karena inilah waktu bisa bertemu dengan Kadept (Kepala Departemen) Kastrat (kajian Strategis), yang konon kabarnya, beliau super sibuxers. Bagaimana tidak??? Beliau penerima beasiswa PPSDMS, aktivis kampus yang tak hanya nge-bem aja, tapi juga nasyiders loh  (hmmm... gimana ga banyak fansnya coba) mana beliau baik hati, ramah, n murah 3S (Senyum, sapa, Salam)... subhanalllah... (loh kog terus bahas kadept saya).


Ehm, karena sudah lama tak pernah berjumpa, karena kesibukan beliau KKN, maka, syawalan ini, KADIV kajian dan opmed, mengusulkan syawalan bareng kadept, FREE!!!!!! So, jangan lupa, kumpul di bem, jam 16.00 wib.


Detik berjalan ke detik, jam ke jam, dan akhirnya ashar. Tetapi, tiba-tiba.... “dreet....dreet...”, “1 message from xxx”, “afwan, teman2, dikarenakan, banyak teman2 kita yang berhalangan hadir, dan dikarenakan sahabat kita, ahmad sedang berduka, maka syawalan kita ditunda. Tunggu sms knfrmasi slnjutnya ya....”


Oh my god.... gag jadi, hmm... padahal, di kos tak ada makanan buat buka puasa ni. Ya udah, akhirnya, ditawarin ikut takziah mbak-mbak.


“dek vin, ikut yuk, takziyah ke tempat ahmad. Yuk... gag ada agenda kan??” tanya teh putri


“ emm, gag mbak, ok deh, insyaallah, tapi dimana mbak rumah ahmad??


“di magelang, pabean, borobudur”


“what??? Borobudur?? Jauh banget mbak, ke sananya gimana???”


“naik motor. Gimana??”


“terus.... saya..... sen...di...ri...??? ato diboncengin??”


“sendiri dek, kan yang diboncengin yang pada gag bawa motor, gapapa kan??”


“hah??? Emmm... iya deh, insyaalllah gag papa mbak...”


“ok,, sip3, eh iya, ikhwannya dah pada berangkat, kita nyusul di belakang, ntar di tunggu jembatan jalan magelang, yuk siap2 berangkat dek...”


“Ok mbak...” menyetujui dengan filling yang tak begitu bagus.


Dan akhirnya perjalanan pun dimulai.............................


 


To be continued..........


Setetes Air mata Di Lebaranku

Mungkin tak ada yang atau belum pernah ada orang mengalami hal seperti ini, selain aku dan keluargaku. Jika pun ada, pastilah akan mampu merasakan apa yang aku dan kakakku rasakan waktu itu.



Lebaran ini, syawal 1430 Hijriah, benar-benar berbeda, sangat berkesan sekaligus menyedihkan buat aku. Satu minggu sebelum lebaran, aku mudik dan sampai rumah, semuanya masih biasa dan berjalan sesuai rutinitas. Namun, dua hari setelah itu, ketika kami sekeluarga sudah berkumpul bersama, aku, kakak perempuanku, ayah ibuku, dan nenekku, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ayahku, tiba-tiba sakit, beliau tak mampu menegakkan badannya, kaki kanannya sakit, tak tau kenapa. Setelah itu, beliau periksakan ke puskesmas, tapi, katanya tak apa-apa, dan dokternya tak bilang apa-apa, Cuma ngasih obat. Tapi, ternyata, itu tak membuat sakit ayahku berkurang, tapi lebih menjadi.



Hingga, 2hari setelah itu, ayahku tak mampu lagi berdiri untuk shalat, dan aku sarankan untuk duduk. Miris rasanya aku melihatnya, padahal aku shalat di belakangnya. Sangat miris, melihat beliau yang dulu sangat perkasa, tapi, sekarang terbaring lemah, bahkan, beliau pun sangat tak nyaman untuk istirahat. Hampir tiap malam, beliau tak mampu melelapkan matanya. Dalam hatiku, aku hanya bisa menangis, dan meminta kepada Allah, tuk segera sembuhkan ayahku.



Hari kamis, tepatnya, 3hari sebelum lebaran, ayahku diminta nenekku untuk berobat ke dokternya nenekku, di jogja, lalu malam-malampun beliau berangkat naik mobil dengan ibu dan kakak, serta omku. Memang ada perasaan gag enak dalam benakku. Di rumah, jam demi jam, aku hanya mampu menghitung maju dan terus berharap akan segera mendengar suara mobil berhenti. Tapi, nyatanya tak kunjung datang, hingga akhirnya, jam setengah 2 malam, pamanku datang ke rumahku, dan menanyakan ayahku, karena aku tak tau, maka ditelponlah oleh pamanku.



“Grekkkkkkkkkk........... sreet.............. jantung ini serasa tiba-tiba berhenti sejenak, aliran darah tubuhku seperti memuncak, mataku terus menatap pamanku, telingaku terus saja mendengarkan percakapan pamanku, sampai ku tak mampu mengucapa apa, hingga akhirnya pamanku memanggilku”.



“nduk, ayah kamu harus di opname selama 3hari di rumah sakit. Tapi, tenang, insyaallah tidak terjadi apa-apa dengan ayahmu, hanya perlu istirahat. Sakitnya pun tak ada hubungannnya dengan ginjal, gula darah, atau apapun, hanya karena radang persendian, insyaallah akan cepat sembuh, sudah yang tabah ya... ”



Aku hanya bisa menjawab, “ya paman”.



Lalu aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah, dengan tetap membiarkan kehangatan tetesan air mata ini yang tak mau terhenti.



Segera ku ayuhkan kakiku tuk bermesraan dengan air wudhu, lalu mulai mengakrabkan dengan sajadah dan mukenaku.



Ntah berapa lama aku tersimpuh peluh di sajadah itu dengan tetesan airmata yang tak kunjung habis. Hingga sudah sejenak ku temukan rasa tenang, segera kuambil mushaf Al Qur’an, perlahan-lahan aku membacanya, hingga ketenangan hati ini semakin bertambah.



To be continued...