Sedikit Tentang Pohon Ghorqod

 

 
Bismillah.......
semoga artikel ini bermanfaat... mari berbagi ilmu... ini sedikit bahasan tentang pohon ghorqod, tulisan dari sahabat kita... selamat membaca...
 



Kenapa Beda Perlakuan???

 


Seorang ikhwan bertanya :

“kenapa beberapa akhwat ada yang mudah sekali berinteraksi dengan dengan leluasa sama “co”??? kenapa ketika dengan para ikhwan, tidak?? Sungguh, perlakuan yang sangat berbeda....

 

Jawab:

Ini jawaban, bagi yang merasa ikhwan. ...

Saudaraku, saya faham, atas kegundahan kalian. Mungkin kalian kira, kami (saya) masih kelewatan. Hmmm... (mybe). Tapi, insyaallah kami pun juga tetap GB (ghaudhul bashar), kepada siapapun lawan jenis.

Benar, keresahan kalian, benar dan terima kasih, sudah mengingatkan. Saya jadi ingat, bagaimana adab bergaul antara putra dan putri. Seorang kakak adik, sekandung saja, perlakuannya harus dibedakan dan dijaga. Bagaimana yang bener2 gak ada hubungan keluarga / darah sekalipun??? Sudah pasti harus sangat-sangat dijaga. insyaAllah,kita selalu mengingat itu.

Kami (saya) memang terkadang belum bisa mengontrol dengan baik, sering kelewatan berperilaku pada non muhrim, apalagi kepada “co”. Tidak tau, kenapa, tapi, jujur itu sangat naluriah. Dan benar, dengan tiba-tiba pun kami akan terjaga, jika kami tau yag ada di depan kita adalah putra bertitel “ikhwan”. Aneh bukan???

OK, mungkin, banyak, yang menganggap, kita tak begitu ghaudul bashar, maka, sejujurnya, kami mohon maaf, karena belum bisa bersikap yang sesempurna “akhwat” lain. Tapi, kalian, tak bisa men-judge kami, kalo kami tak GB, jujur, bahkan kami sangat bisa GB ketika yang sedang kami hadapi saat itu bukanlah putra berkedok “ikhwan”. Sebaliknya, sungguh, menjadi kesusasahan, dan perlu benteng beribu-ribu lapisan, kalo yang berada di depan kita adalah sang makhluk yang suka dipanggil sebagai “ikhwan”.

Hufft.....

Kalian faham???

Ntahlah, apa yang kami rasakan itu sama dengan anda???

Next, taukah, wahai saudaraku, kenapa kami (saya) mersa kesulitan GB???

Hmmm... kalian harusnya tau dan bisa menjawabnya. Ini masalah “hari depan/masa depan”, tentang bagaimana seorang akhwat pun juga sudah punya “kriteria” untuk pendampingnya kelak. (maybe, kalian pun juga....)

Lalu, pasti kalian juga akan tau selanjutnya bagaimana. Ketika ternyata yang kalian hadapi saat itu, (maybe) masuk dalam nominasi kalian??? Hmmm... pasti susah kan...

Nah lo.. nah lo.. itulah, yang meyebabkan kami (saya), kadang kelewatan kepada teman yang tak bertitel ikhwan.... maaf nggih....

Oh ya, catetan: “ ini tak terjadi pada semua akhwat loh, Cuma segelintir, yang masih belajar. Untuk mbak2 yang udah bener2 faham, beliau semua, pokoknya dah TOP BGT dah buat yang namanya GB pada siapapun...

So, doain, kami (saya) ya!!! untuk selalu, lebih dan lebih memperbaiki diri, menjadi lebih baik... amin..^^

Ehm...insyaAllah, kami (saya) akan terus memperbaiki diri. Seiring waktu berjalan.

The Last, again......Maaf, jika sempat ada yang tak begitu suka (ilfil) dengan perilaku kami (saya)... afwan jiddan...

Jazakallah khoir, ya akhi, yang sudah mengingatkan kami (saya)... ^^

Hayo,,, sudah pada izin belum ni???

 


akhirnya bisa posting!!!

 

sedikit berbagi ilmu ya...

 

hayo,, dah pada izin belum ni??? ex, telat rapat (bagi manusia kura-kura <kuliah-rapat> hihi), ato telat pulang ke hum.... ato izin gak bisa masuk ke kampus.... hmm.. wuaduh, jangan-jangan pada belum ni, ato izinnya, baru 1 menit setelah, ato izinnya setelah beberapa kali di telponin ma orang tua ato teman ato dosen bahkan...

 

ehm... ya udah deh, nasi yang udah jadi bubur, gak bisa diapa-apain lagi. cuma mo nge-share n berbagi ilmu ma temen-temen ni....

 

gini ni, bagi saya yang juga lagi belajar, plus teman-teman juga, saudara-saudariku tercinta, sebenernya, izin itu penting gak si???

 

jujur, dulu saya pikir, hmm, biasa aja si, tapi, insyaallah, izin harus, kalo kita berhalangan sesuatu. ya gak??? ^_@

 

Izin... Adab Izin (Adab Istidzar)===> (ahaha, saya juga baru tau bahasa arabnya ntu, baru-baru ini kok... hihihi)

 

Ok, buat mengetahui penting ndaknya, yukz, kita review kisah nabi saat perang tabuk...

 

dahulu kala, ketika perang tabuk, diserukan kepada kaum muslimin untuk pergi berperang. Namun, di kala itu, adalah saatnya musim panen tiba, so, ada saja kaum muslimin yang tak ikut berjihad.. hmmm...

 

Then,,, ketika perang telah usai, dan alhamdulillah kaum muslimin memperoleh kemenangan,, (Allahu Akbar!!!), lalui berbondong-bondonglah beberapa kaum muslimin yang tak ikut berperang kehadapan rosulullah. salah satu diantaranya adalah "Kaab bin Malik", bersama dua rekannya "hilal bin Umay " dan "Murarah"

 

Kemudian, sebagai jubirnya ditunjuklah "Kaab" untuk meminta maaf kepada rosul, karena Kaab dikenal sebagai orang yang diplomatis,pandai berbicara.

 

lalu, ketika menghadap Rosul, mereka ditanya rosul, "ada apa gerangan tidak ikut berjihad melawan tentara kafir??"(kurang lebih bahasa seperti itu, hehehe)

Kemudian satu persatu menjawab,denagn berbagai alasan, namun, ketika giliran kaab, mulutnya seakan terkunci. apa yang sudah ia persiapkan untuk menjawab pertanyaan rosul,luluh sudah, karena bertentangan dengan hati nuraninya.

 

sebagai orang muslim ia tah, dan sangat paham, akan arti kejujuran, seperti pepatah mengatakan,

"Dusta menjadikan bagian masalah menjadi masa depan, kejujuran menjadikan bagian masalah menjadi masa lalu...." (semoga faham maksudnya... ^^)

 

Kemudian Kaab pun menjawab "Saya tidak punya alasan ya Rosul...."

mendengar jawaban tersebut, Rosul pun akhirnya menangguhkan taubat mereka, hingga turun surat at Taubah:118.

dan hukuman untuk mereka adalah Rosul memalingkan mukanya kepada mereka, serta mereka dikucilkan oleh semua rakyat saat itu.

 

saat hari 1: terasa sangat menyiksa, semua orang menjauhi Kaab, termasuk saudara sepupunya sendiri (seseorang yang sangat dekat dengan Kaab).

lalu, ada seorang sahabat yang mendatanginya untuk menyampaikan pesan dari Rosul: "Jauhilah istrimu"

 

Akhirnya, Kaab menyendiri, sehingga suatu saat ada surat dari negara musyrik untuk Kaab. menawarkan pekerjaan sebagai dubes untuknya. namun, dengan segera ia menolaknya, karena Kaab sadar, dan menganggap apa yang terjadi pada dirinya saat itu adalah cobaan, kemudian ia terus dan terus bersabar .

 

pas, saat hari ke 50, ada orang yang menyapanya.... benar-benar sangat bahagia, Kaab bagai orang yang kehausan di padang gurun, dan menemukan air minumnya", subhanallah walhamdulillah...

dan saat itulah hukumannya tlah selesai.... ^^

 

-------------------------------------

 

hmmm.... temen-temn, kira2 ibrohnya apa ni???

 

1.. bersyukur, Kaab, cz dosanya tlah diblz di dunia...

2.. izin dong, kalo punya uzur...

3.. sabar ya bung.... plus tanggung jawab... hehehe

4.. inget!!!! 1 dosa kecil adalah awal menjadi dosa besar... so berhati2 lah...

 

ok.... sesuai dengan judul,,

ehm, lihat surat an Nur,62 ya... (intinya tentang sangat pentingnya izin jika berhalangan,mkepada siapapun... itulah orang mukmin...^^)

 

ok... disini tak kasih dah, sedikit rambu2, tentang adzab izin yang benar:

1. memberikan uzur yang jelas (detail, syari)

2. memperhatikan waktu izin (inget!!! izin pas acara BUKAN izin)

 

nah, gitu, jadi kenapa si penting izin??? hayoo.... tau ndak....

yupz, cz izin bisa melatih disiplin... (ni terutama yang mengaku aktivis.. hehehe)

terus, cz, ADAB IZIN    adalah AKHLAK....

 

 

Nah gitu aja....

monggo, sami belajar buat menaati izin yang baik ya??? ^^

 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

dedicated:

untuk temen yang pesen publish ni materi, (intan)

untuk temen yang ngaku aktivis

untuk temen yang ngaku berakhlak baik

untuk temen yang cinta islam....

yang jelas buat semua saudar-saudariku semuslim... ^^

Pemimpin Untuk Umatnya.......









Sebuah kisah yang mungkin engkau tlah sering mendengarnya........


Pada suatu malam, khalifah Umar, sedang meronda di sekeliling kota dan kampung untuk melihat kondisi rakyatnya. Tiba-tiba ia, mendengar tangisan seorang anak. Lalu, sayyidina umar mendatanginya.


Ketika beliau menegok ke gubuk itu, beliau melihat ibu anak itu sedang memasak sesuatu di dapur. Tiap kali, sang anak melihat sang ibu sedang ,memasak, maka ia akan berhenti menangis. Karena makanannya yang tak kunjung selesai dimasak, maka sang anak kelelelahan menunggu dan akhirnya iavtertidur dalam kelaparannnya. Kondisi yang sangat memilukan itu membuat sayyidina Umar tertegun dan segera memberi salam, dan meminta izin untuk masuk ke dalam gubuk itu. beliau bertanya tentang kehidupan wanita ibu. Wanita itu mengadu, dia dan anaknya tak pernah makan berhari-hari, setiap anaknya, kelaparan, ai selalu berpura-pura sedang memasak di dapur, padahal yang ia masukkan untuk dimasak itu adalah sebuah ketul batu kedalam periuk. Melihat keadaan itu, sang anak berhenti menangis, karena menyangka ibunya sedang memasak.


Wanita itu lalu mengadu dan mengutuk khalifah sayyidina Umar karena tak bertanggung jawab kepada rakyatnya. Mendengar kutukan itu, sayyidina Umar terdiam sejenak. Lalu, sesaat, beliau meminta izin untuk keluar. Pada saat malam itu juga, sayyidina Umar menuju ke Baitul Mal lalu mengambil sendiri bebarapa kantong gandum untuk diberikan kepada wanita itu.


Ketika sampai di rumah itu, Sayyidina langsung memberi salam, dan masuk ke rumah itu. kemudian Beliau mengambil gandum itu itu untuk dimasaknya kepada wanita dan anaknya tadi. Wanita itu, masih dalam keadaan yang tak sadar, bahwa yang ada di depannya, dan memasakannya saat itu adalah khalifahnya sendiri, sayyidina Umar.   


Setelah masakan itu siap, khalifah Umar menyajikannya kepada dan anaknya, sehingga mereka terlihat sangat gembira dan senang sekali. Lalu sang wanita itu berucap “ Kalaulah Sayyidina Umar yang berbuat seperti ini, alangkah baiknya......” (begitulah ucapannya, tanpa menyadari bahwa orang yang berada dihadapannya itu adalah Sayyidina Umar sendiri).


------------------------------------------


Iktibar....


Sahabatku, tanggung jawab sebagai seorang pemimpin amatlah berat, mengikut Nabi Muhammad saw, bahwa setiap dari jiwa kita adalah seorang gembala dan akan ditanya tentang hewan gembalaannya. Artinya, kita dituntut atas tanggung jawab kita terhadap bawahan kita.


Sahabatku, pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab pada rakyatnya akan memastikan bahwa  kebajikan mereka dijaga dengan baik.


Sahabatku, pemimpin yang benar-benar pemimpin adalah mereka yang mengutamakan rakyatnya yang benar-tak berdaya daripada kepentingan pribadinya. Pemimpin sudah sepantasnya sanggup turun ke bawah, melihat kondisi rakyatnya dengan mata kepalanya sendiri dan dengan hati yang tulus ikhlas, melakukan setiap amalan yang terpuji tanpa mengharapkan pujian atau sanjungan. Dan seorang pemimpin yang baik adalah ia yang dengan tangan terbuak menerima kritikan dari rakyatnya.


Sahabatku, untuk yang terakhir, untuk menjadi pemimpin yang arif, bijaksana, memegang amanah, dan daapat bertanggung jawab dengan baik, serta demi keselamatan dunia akhirat, sudah seharusnya, kita mencontoh nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabat baginda.


Semoga bermanfaat........


 


_dengan sedikit perubahan dari ebook_


_alone with luph_


090210/2020


@kos BBs/evening


  


Sosok Akhwat untuk Koord Keakhwatan???









Bismillah.........


Ini  jawaban dari PR untuk adik-adik mentoring SMA.


Hmm, meskipun baru bisa berjumpa satu kali, tapi itu sangat berharga bagiku. Berawal dari pertanyaan adik kelas, “mbak gimana si, sebenarnya sosok yang paling bagus buat jadi koordinator keakhwatan???”


Hmm wuaduw, seperti tersambar petir rasa-rasanya. Ehm, untuk adik-adikku, sedikit bercerita flashback tentang kehidupanku masa lalu. ^^


Adikku, tak seperti yang kau bayangkan, sebenarnya pertanyaan yang mudah ini akan jadi jawaban yang sulit bagi diriku. Kenapa tidak, karena aku merasa aku bukanlah sebaik yang kalian kira. Aku masih belajar adikku. Apa yang aku sampaikan tadi, juga hasil belajarku selama ini, dan tak ada yang istimewa, karena sebenarnya, materi yang aku sampaikan tadi, sudah banyak pula yang mengetahuinya.


Adikku, andai kau tau,aku baru bersyukur, ketika aku masuk kuliah ini. Banyak bersyukur kepadaNya, karena banyak nikmat dan hidayah dari karuniaNya. Maha suci Allah. Ketika SMA, aku memang sudah berada di organisasi seperti ini, seperti kalian. Namun, ya masih seperti itu, hanya ikut-ikutan, dan selama tiga tahun itu pun, aku belum dapat mendapat “feel” dari seorang “aktivis”. Bisa dibilang aku dulu yang masih “nakal”, “pecicilan”, “gak tau malu”, atau “Tomboy”,hampir-hampir aku pun juga jadi gak tau, gimana si akhwat yang sebenar-benarnya.


Alhamdulillah, sedikit demi sedikit kini aku mulai tau dan mengerti.


Adikku, jika kau katakan “akhwat”, maka pertanyaanku, apakah yang kau maksud “akhwat” itu hanya anak Rohis aktif?? Hmm... ralat sedikit ya dek, akhwat, sebenarnya artinya “saudara perempuan”, hmm tapi kini maknanya telah menyempit. Ya, akhirnya aku mengerti maksudmu.


Adikku, mungkin ini bukanlah jawaban yang tepat, tapi, sebenarnya aku tak mampu menilai atau memberikan batasan-batasan secara jelas, bagaimanakah akhwat yang baik untuk memimpin keakhwatan di rohis. Yang jelas adikku, seperti yang aku sampaikan saat sebelumnya, ketika kita dipercaya untuk memimpin, maka laksanakanlah segenap tanggung jawabmu, dan selalu contoh bagaimana seorang pemimpin yang baik menurut islam?? Yupz, beliau, Baginda Rosulullah saw dan sahabat-sahabatnya lah yang sudah sepantasnya kita contoh.


Namun, ketika pemimpin itu sudah dipersempit dengan lingkup “akhwat”, coba marilah kita berkaca degan sahabiah-sahabiah di zaman rosullullah. Mungkin menjadi seorang pemimpin yang ulung di tengah kesendiriannya??? Ada Siti Khadijah, Aisyah, fatimah az zahra (keluarga nabi) yang mampu mengemban amanah, membantu nabi memimpin mendampingi dakwah beliau hingga titik darah penghabisan.


Ketika yang engkau tanyakan itu tentang fisik, maka tak ada batasan nilai “cantik” pada fisiknya. Namun, lebih menyoroti “cantik”agama, akhlak, dan pribadinya. Ehm... jadi maksudnya, ketika ia bisa mempercantik dirinya dengan nilai-nilai ibadahnya., akhlaknya, dan menerapkan pada pribadi kesehariannya. Ini berarti kefahaman tentang keislamannya akan menjadi pertimbangan yang utama. Karena di sini yang dicari adalah seorang pemimpin yang bisa memimpin umatnya untuk menegakkan agama Allah.


Adikku, jika engkau hendak memilih pemimpin untuk memimpin pasukanmu, maka pilihlah yang terbaik agama, akhlak dan pribadinya. Tak lupa, ikutkanlah Allah dalam perhelatanmu ini. Artinya, semua keputusan terakhir ada di tangan Allah, libatkan Ia dalam hal ini,mintalah petunjukknya, dengan berdialog dengannya, di tengah malam suci, ketika Ia, benar—benar akan mengabulkan doa tiap hambaNya yang saat itu sedang meminta kepadaNya, yak, di sepertiga malam akhirmu.


Adikku, tak ada gading yang tak retak. Mungkin memang atak ada yang terbaik menurutmu. Tapi mungkin diantara mereka ada yang terbaik menurut Allah. Lalu mana yang akan engkau pilih??? Pilihan Allah bukan??? Right... jangan bersedih hati, adikku, yakinlah akan ketetapannnya. Ingatlak ketika di suatu ketika ada hal yang menyimpang, maka sudah kewajibanmu sebagai sesama muslim, buat saling mengingatkannya. Jangan hakimi, tapi ingatkan, dan dampingi, berikan yang terbaik yang dapat kau berikan untuknya, karena dia pun juga manusaia yang tak akan luput dari khilaf.


Adikku, tak ada ukuran nilai angka dari 1-100. Karena, hal itu tak dapat di ukur, itu sangatlah rentan dengan penilaian subyektif. Dan secara garis besar, mungkin kamu bisa ikut menilai, apakah akhwat yang kau pilih menjadi pemimpinmu itu berhasil menjadi seorang pemimpin???


 Nice... pembinaan secara kontinue, pendampingan, dan saling menasehati adalah satu hal terpenting juga untuk membuat level “akhwat” lebih baik. Maka, saling tolong-menolonglah dalam hal kebaikan.... ^^


 


(afwan jika masih banyak terjadi kekhilafan di sana-sini, atau mungkin jawaban yang kurang pas, atu kurang jelas, syukron... semoga bermanfaat)


 


Wallahu a’lam bishowab


 


(_dari seseorang yang sedang belajar_)


_alone with luph_


080210/2230


@kos BBs/night


mahramku... siapa???

“Maaf, anda bukan muhrim saya.”


Demikian kata-kata yang meluncur dari lisan seorang wanita ketika seorang laki-laki mengulurkan tangan kepadanya. Laki-laki itu pun menjadi bingung. Apa itu muhrim? Mungkin begitu pertanyaan yang bergayut di pikirannya.


Ada di antara kita yang pernah menghadapi peristiwa seperti ini. Namun ternyata, masih banyak yang keliru membedakan antara muhrim dengan mahram. Sebenarnya kata yang tepat untuk konteks kalimat wanita itu adalah mahram bukan muhrim.


 


Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab, persusuan dan pernikahan (Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam al-Mughni 6/555). Sedangkan muhrim adalah orang yang sedang melakukan ihram dalam haji atau umrah.


Masalah mahram merupakan salah satu masalah yang penting dalam syari’at Islam. Karena masalah ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan hubungan mu’amalah diantara kaum muslimin, terutama bagi muslimah. Allah Ta’ala telah menetapkan masalah ini sebagai bentuk kasih sayang-Nya juga sebagai wujud dari kesempurnaan agama-Nya yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam.


Pembagian Mahram

Syaikh ‘Abdul ‘Adzim bin Badawi Al-Khalafi (lihat Al-Wajiiz) menyatakan bahwa, seorang wanita haram dinikahi karena tiga sebab, yaitu karena nasab (keturunan), persusuan, dan mushaharah (pernikahan). Oleh karena itu, mahram wanita juga terbagi menjadi tiga macam yaitu mahram karena nasab atau keluarga, persusuan dan pernikahan.


Mahram Karena Nasab

Mahram karena nasab adalah mahram yang berasal dari hubungan darah atau hubungan keluarga.


Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Nur ayat 31, yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara lelaki mereka atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka.”


Para ulama’ tafsir menjelaskan, “Sesungguhnya lelaki yang merupakan mahram bagi wanita adalah yang disebutkan dalam ayat ini, adalah:


1. Ayah

Termasuk dalam kategori bapak yang merupakan mahram bagi wanita adalah kakek, baik kakek dari bapak maupun dari ibu. Juga bapak-bapak mereka ke atas. Adapun bapak angkat, maka dia tidak termasuk mahram bagi wanita. Hal ini berdasarkan pada firman Allah Ta’ ala, yang artinya, “Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu.” (Qs. Al-Ahzab: 4)


2. Anak laki-laki

Termasuk dalam kategori anak laki-laki bagi wanita adalah cucu, baik cucu dari anak laki-laki maupun anak perempuan dan keturunan mereka. Adapun anak angkat, maka dia tidak termasuk mahram berdasarkan pada keterangan di atas.


3. Saudara laki-laki, baik saudara laki-laki kandung maupun saudara sebapak ataupun seibu saja.

Saudara laki-laki tiri yang merupakan anak kandung dari bapak saja atau dari ibu saja termasuk dalam kategori mahram bagi wanita.


4. Keponakan, baik keponakan dari saudara laki-laki maupun perempuan dan anak keturunan mereka.

Kedudukan keponakan dari saudara kandung maupun saudara tiri sama halnya dengan kedudukan anak dari keturunan sendiri. (Lihat Tafsir Qurthubi 12/232-233)


5. Paman, baik paman dari bapak ataupun paman dari ibu.

Syaikh Abdul Karim Zaidan mengatakan dalam Al-Mufashal Fi Ahkamil Mar’ah (3/159), “Tidak disebutkan bahwa paman termasuk mahram dalam ayat ini (QS. An-Nur: 31) karena kedudukan paman sama seperti kedudukan kedua orang tua, bahkan kadang-kadang paman juga disebut sebagai bapak.


Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq.” (Qs. Al-Baqarah: 133)

Sedangkan Isma’il adalah paman dari putra-putra Ya’qub. Dan bahwasanya paman termasuk mahram adalah pendapat jumhur ulama’.


Mahram Karena Ar-Radha’

Ar-radha’ah atau persusuan adalah masuknya air susu seorang wanita kepada anak kecil dengan syarat-syarat tertentu (al-Mufashol Fi Ahkamin Nisa’ 6/235).


Sedangkan persusuan yang menjadikan seseorang menjadi mahram adalah sebanyak lima kali persusuan, berdasar pada hadits dari `Aisyah radhiyallahu `anha, beliau berkata, “Termasuk yang di turunkan dalam Al Qur’an bahwa sepuluh kali persusuan dapat mengharamkan (pernikahan) kemudian dihapus dengan lima kali persusuan.” (HR. Muslim 2/1075/1452)


Ini adalah pendapat yang rajih di antara seluruh pendapat para ulama’ (Lihat Nailul Authar 6/749 dan Raudhah Nadiyah 2/175).


Syaikh Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa terdapat dua syarat yang harus dipenuhi sebagai tanda berlakunya mahram ar-radha’ (persusuan) ini, yaitu:



  1. Telah terjadinya proses penyusuan selama lima kali.

  2. Penyusuan terjadi selama masa bayi menyusui yaitu dua tahun sejak kelahirannya. (Lihat Durus wa Fatawal Haramul Makki Syaikh Utsaimin, juz 3 hal. 20)


Hubungan mahram yang berasal dari persusuan telah disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya tentang wanita-wanita yang haram untuk dinikahi, yang artinya, “Juga ibu-ibu yang menyusui kalian serta saudara-saudara kalian dari persusuan.” (Qs. An-Nisa’: 23)


Dan disebutkan juga oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu `anhu, ia berkata, “Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab.” (HR. Bukhari 3/222/ 2645 dan Muslim 2/1068/ 1447)


Dari penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa mahram bagi wanita dari sebab persusuan adalah seperti mahram dari nasab, yaitu:


1. Bapak persusuan (suami ibu susu).

Termasuk mahram juga kakek persusuan yaitu bapak dari bapak atau ibu persusuan, juga bapak-bapak mereka ke atas. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Sesungguhnya Aflah saudara laki-laki Abi Qu’ais meminta izin untuk menemuiku setelah turun ayat hijab, maka saya berkata, “Demi Allah, saya tidak akan memberi izin kepadamu sebelum saya minta izin kepada Rasulullah, karena yang menyusuiku bukan saudara Abi Qu’ais, akan tetapi yang menyusuiku adalah istri Abi Qu’ais. Maka tatkala Rasulullah datang, saya berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya lelaki tersebut bukanlah yang menyusuiku, akan tetapi yang menyusuiku adalah saudara istrinya. Maka Rasulullah bersabda, “Izinkan baginya, karena dia adalah pamanmu.” (HR. Bukhari: 4796 dan Muslim: 1445)


2. Anak laki-laki dari ibu susu.

Termasuk anak susu adalah cucu dari anak susu baik laki-laki maupun perempuan. Juga anak keturunan mereka.


3. Saudara laki-laki sepersusuan.

Baik dia saudara susu kandung, sebapak maupun cuma seibu.


4. Keponakan persusuan (anak saudara persusuan).

Baik anak saudara persusuan laki-laki maupun perempuan, juga keturunan mereka.


5. Paman persusuan (saudara laki-laki bapak atau ibu susu).

(Lihat al-Mufashol 3/160)


Mahrom Karena Mushaharah

Mushaharah berasal dari kata ash-Shihr. Imam Ibnu Atsir rahimahullah berkata, “Shihr adalah mahram karena pernikahan” (An Nihayah 3/63).


Contohnya, mahram yang disebabkan oleh mushaharah bagi ibu tiri adalah anak suaminya dari istri yang lain (anak tirinya) dan mahram mushaharah bagi menantu perempuan adalah bapak suaminya (bapak mertua), sedangkan bagi ibu istri (ibu mertua) adalah suami putrinya (menantu laki-laki) [Al Mufashshol 3/162].


Hubungan mahram yang berasal dari pernikahan ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka,atau ayah mereka,atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka.” (Qs. An-Nur: 31)


“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu (ibu tiri).” (Qs. An-Nisa’: 22)


“Diharamkan atas kamu (mengawini) … ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, dan istri-istri anak kandungmu (menantu).” (Qs. An-Nisa’: 23)


Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diketahui bahwa orang-orang yang haram dinikahi selama-lamanya karena sebab mushaharah adalah:


1. Ayah mertua (ayah suami)

Mencakup ayah suami atau bapak dari ayah dan ibu suami juga bapak-bapak mereka keatas (Lihat Tafsir As-Sa’di hal: 515, Tafsir Fathul Qodir 4/24 dan Tafsir Qurthubi 12/154).


2. Anak tiri (anak suami dari istri lain)

Termasuk anak tiri adalah cucu tiri baik cucu dari anak tiri laki-laki maupun perempuan, begitu juga keturunan mereka (Lihat Tafsir Qurthubi 12/154 dan 5/75, Tafsir Fathul Qodir 4/24, dan Tafsir Ibnu Katsir 1/413).


3. Ayah tiri (suami ibu tapi bukan bapak kandungnya)

Haramnya pernikahan dengan ayah tiri ini berlaku ketika ibunya telah jima’ dengan ayah tirinya sebelum bercerai. Namun, jika belum terjadi jima’, maka diperbolehkan.

Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seluruh wanita yang pernah dinikahi oleh bapak maupun anakmu, maka dia haram bagimu.” (Tafsir Ath- Thobari 3/318)


4. Menantu laki-Laki (suami putri kandung)

Dan kemahraman ini terjadi sekedar putrinya di akadkan kepada suaminya (Tafsir Ibnu Katsir 1/417).


Ditulis ulang dari artikel Mahrom bagi Wanita (Ahmad Sabiq bin `Abdul Lathif), majalah Al Furqon, Edisi 3/ II, Dzulqa’idah 1423 H, hal 29-31 dengan beberapa tambahan dari penulis.

Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad dan Ummu Asma’ Dewi Anggun Puspita Sari


***


http://muslimah.or.id/fikih/lihatlah-siapa-mahrammu-1.html


dari judul asli (lihatlah siapa mahrammu (1)

Mau Pilih Mana???









Pilih Pacaran atau…..Ta’aruf?




Sebetulnya apa sih pacaran itu? Biasanya kalau ada cowok dan cewek saling suka, salah satunya nyatain dan yang lainnya terima, itu berarti udah pacaran. Buat sebagian orang pacaran itu isinya jalan berdua, makan, nonton, curhat-curhatan intinya, just for fun lah!tapi, juga ada, yang  tujuannya untuk lebih mengenal sebelum pernikahan.



oleh, karena itu, mari sedikit kita tengok sejenak, apakah sebenarnya
pacaran yang dilakukan khayalak muda sekarang itu pas dengan aturan agama kita atau tidak. Benar bukan??


Pertama, orang kalo lagi pacaran maunya berdua terus. Ah yang bener, iya apa iya. Beberapa hari enggak ditelpon udah resah, seharian enggak di sms udah kangen. Begitu ketemu pengen memandang wajahnya terus, wah pokoknya dunia serasa berbunga-bunga. Apalagi kalau pakai acara mojok berdua, di tempat sepi mesra-mesraan. Waduh, hati-hati deh, soalnya Rasulullah SAW bersabda, “ Tiada bersepi-sepian seorang lelaki dan perempuan, melainkan syetan merupakan orang ketiga diantara mereka.”



Kedua, kalau lagi pacaran rasanya seperti dimabuk cinta. Lupa yang lainnya. Dunia serasa milik berdua yang lainnya ngontrak. Hati-hati juga nih, nanti kita bisa lupa sama tujuan Allah menciptakan kita (manusia). FirmanNya, “ Dan tidak Kuciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS 51:56)



Ketiga, bukan rahasia lagi kalau di jaman serba permisif ini seks udah jadi bumbu penyedap dalam pacaran (Majalah Hai edisi 4-10 Maret 2002). Majalah Kosmopolitan juga mengadakan riset di lima universitas terbesar di Jakarta, dan ternyata dari yang mengaku pernah melakukan aktivitas seksual, sebanyak 67,1% pertama kali melakukan dengan pacarnya.


Memang banyak orang pacaran awalnya enggak menjurus ke sana. Tapi gara-gara sering berdua, ada kesempatan, dan diem-diem syetan udah ngerubung, yah terjadilah. Pertama pegang tangan, terus rangkul pundak, terus cium pipi, terus…..terus…..wah bisa kebablasan deh. Jangan salah lho, agama kita melindungi kita dengan melarang melakukan perbuatan-perbuatan itu. FirmanNya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu pekerjaan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS 15:32) Ternyata Al Quran udah melakukan tindakan preventif dengan melarang mendekatinya, bukan melarang melakukannya. Rasulullah SAW juga bersabda, “Seandainya kamu ditusuk dengan jarum besi, maka itu lebih baik bagimu daripada menyentuh perempuan yang tidak halal bagimu.” Jadi pegang-pegangan tangan juga mesti dihindari tuh.



Keempat, ternyata pacaran bukan jaminan akan berlanjut ke jenjang perkawinan. Banyak orang di sekitar kita yang sudah bertahun-tahun pacaran ternyata kandas di tengah jalan. Pacaran pun tidak menjadikan kita tahu segalanya tentang si dia. Banyak yang sikapnya berubah setelah menikah.


 


Kalaulah kini kita tahu praktek pacaran nggak menjadi suatu jaminan bahkan banyak melanggar aturan Allah dan tidak mendapat ridhoNya, masihkah kita yang mengaku hambaNya, yang menginginkan surgaNya, yang takut akan nerakaNya, masih melakukannya? Tapi kalau bukan dengan pacaran, gimana caranya ketemu jodoh? Jaman sekarang kan kita enggak bisa gampang percaya sama orang, jadi perlu ada penjajagan. Hmm, islam tuh dah ngatur seluk beluk seperti ini, Islam punya solusi yang mantap dan OK dalam memilih jodoh. Istilahnya bekennnya Ta’aruf, artinya perkenalan, tapi, nggak sembarang taaruf loh, bukan perkenalan yang biasa, tapi luar biasa, lain dengang lain. Buat lebih tau, kita gali lebih jauh yukz....


Pertama, taaruf itu sebenarnya hanya untuk penjajagan sebelum menikah. Jadi kalau salah satu atau keduanya nggak merasa sreg bisa menyudahi taarufnya. Ini lebih baik daripada orang yang pacaran lalu putus. Biasanya orang yang pacaran hatinya sudah bertaut sehingga kalau tidak cocok sulit putus dan terasa menyakitkan. Tapi taaruf, yang Insya Allah niatnya untuk menikah Lillahi Taala, kalau tidak cocok bertawakal saja, mungkin memang bukan jodoh. Tidak ada pihak yang dirugikan maupun merugikan.



Kedua, taaruf itu lebih fair. Masa penjajakan diisi dengan saling tukar informasi mengenai diri masing-masing baik kebaikan maupun keburukannya. Bahkan kalau kita tidurnya sering ngorok, misalnya, sebaiknya diberitahukan kepada calon kita agar tidak menimbukan kekecewaan di kemudian hari. Begitu pula dengan kekurangan-kekurangan lainnya, seperti mengidap penyakit tertentu, enggak bisa masak, atau yang lainnya. Informasi bukan cuma dari si calon langsung, tapi juga dari orang-orang yang mengenalnya (sahabat, guru ngaji, orang tua si calon). Jadi si calon enggak bisa ngaku-ngaku dirinya baik. Ini berbeda dengan orang pacaran yang biasanya semu dan penuh kepura-puraan. Yang perempuan akan dandan habis-habisan dan malu-malu (sampai makan pun jadi sedikit gara-gara takut dibilang rakus). Yang laki-laki biarpun lagi bokek tetap berlagak kaya traktir ini itu (padahal dapet duit dari minjem temen atau hasil ngerengek ke ortu tuh).



Ketiga, dengan taaruf kita bisa berusaha mengenal calon dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hal ini bisa terjadi karena kedua belah pihak telah siap menikah dan siap membuka diri baik kelebihan maupun kekurangan. Ini kan penghematan waktu yang besar. Coba bandingkan dengan orang pacaran yang sudah lama pacarannya sering tetap merasa belum bisa mengenal pasangannya. Bukankah sia-sia belaka?



Keempat, melalui taaruf kita boleh mengajukan kriteria calon yang kita inginkan. Kalau ada hal-hal yang cocok Alhamdulillah tapi kalau ada yang kurang sreg bisa dipertimbangan dengan memakai hati dan pikiran yang sehat. Keputusan akhir pun tetap berdasarkan dialog dengan Allah melalui sholat istikharah. Berbeda dengan orang yang mabuk cinta dan pacaran. Kadang hal buruk pada pacarnya, misalnya pacarnya suka memukul, suka mabuk, tapi tetap bisa menerima padahal hati kecilnya tidak menyukainya. Tapi karena cinta (atau sebenarnya nafsu) terpaksa menerimanya.



Kelima, kalau memang ada kecocokan, biasanya jangka waktu taaruf ke khitbah (lamaran) dan ke akad nikah tidak terlalu lama. Ini bisa menghindarkan kita dari berbagai macam zina termasuk zina hati. Selain itu tidak ada perasaan "digantung" pada pihak perempuan. Karena semuanya sudah jelas tujuannya adalah untuk memenuhi sunah Rasulullah yaitu menikah.



Keenam, dalam taaruf tetap dijaga adab berhubungan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya ada pihak ketiga yang memperkenalkan. Jadi kemungkinan berkhalwat (berdua-duaan) kecil yang artinya kita terhindar dari zina.


 


Gimana, sudah bisa bandingin kan??? Nah ternyata taaruf banyak kelebihannya dibanding pacaran dan Insya Allah diridhoi Allah. Jadi, mana yang ingin sahabat pilih??? Mendapatkan ridho Allah ataukah MurkaNya (naudzubillah...)


wallahu alam....




_alone wth luph_


Sumber: oetari@alexandria.cc


Nasihat Indah









Never Ending from PIMRED


 


 


 


“Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya.. maka mengapa mesti dijalani dengan pedih rasa, sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.. Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya.. maka mengapa tak dinikmat saja. Jika ingin menangis, menangislah.. biar air mata dari telaga iman yang menghapusnya.. jika luka dan kecewa menjadi masa lalu pada akhirnya.. maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa, sedang ketabahan menjadi lebih utama. Biarlah sakit yang dirasa menjadi penawar dosa.. dan kesabaran menjadi penguat batinmu...” (02 Juli09, 22:58:55)


 


melihat Khadijah dan Aisyah seperti itu, atau wanita-wanita muslim yang ada disekitar kita. Mereka bak karang yang menantang matahari, derasnya hujan, perihnya garam lautan, atau kerasnya tempaan ombak lautan, tapi wajahnya meneduhkan, kesabaranya menaklukkan..” (03Juli09, 07:58:40)



 


Air mata seorang wanita saat dia sedih adalah ketegaran, saat dia senang atau melihat saudaranya senang adalah keterharuan. Itulah air mata wanita, allah menciptakan airmata untuk wanita bukan anda kelemahan dan kerapuhan, tapi disanalah kekuatan dan ketegaran.” (03Juli09, 07:39:54)


 


 


Allah beri pahala pada hambaNya untuk siapa saja yang ia kehendaki, untuk siapa saja yang saat senang, sedih, marah,cinta, benci&mengeluh hanya bersandar  pada Allah. Allah janjikan pahala sabar sebanyak air yang terus mengalir dengan derasnya dan tidak ada putusnya.. menganggap diri lemah dihadapanNYa dan tidak pantas mendapat pahala karena amalan yang masih dirasa kecil adalah keharusan kita, tapi minta pertolongan Allah, menengadahkan tangan padaNya dan seraya berdoa dan berharap-harap cemas pahala dan pertemuan denganNya adalah sangat Allah cintai. Itu semua memotivasi kita untuk selalu mempersembahkan amalan terbaik untuk Allah..” (03Juli09, 07:49:45)


Indahnya Lantunan suci Al Qur’an Kala Ramadhan Tiba














“Ramadhan tiba.... ramadhan tiba.... marhaban yaa Ramadhan.... marhaban yaa ramadhan...” (Opick’s song)


Bulan yang dinantikan umat muslim sedunia telah tiba, hilir mudik kegiatan islami pun kian ramai disemarakkan. Sungguh, benar-benar bulan yang mulia, bulan yang penuh maghfiroh, bulan yang penuh rahmah bagi semua umat, inilah bulan yang selalu kita tunggu, bulan suci Ramadhan.


Akan sangat merugi, bagi umat muslim yang tak menyambut bulan ini dengan penuh rasa kebahagiaan dan rasa syukur yang tak terhitung, karena telah dipertemukan lagi pada bulan yang di dalamnya banyak sekali “obral” pahala yang dijanjikan oleh Allah swt. Begitu juga, jika kita menyia-nyiakan waktu satu bulan yang berharga ini dengan hal-hal yang kurang begitu bermanfaat. Padahal di bulan ini, Allah menyesiakan pahala yang sangat luas yang tak dapat dihitung bagi hamba-hambaNya yang mampu memanfaatkan momen indah ini sebagai ajang untuk lebih mendekatkan diri dengan sang Khaliq. Banyak hal yang Allah beri peluang besar untuk kita berlomba mendapatkan buah nikmat pahala-Nya, selain puasa wajib Ramadhan, yaitu nikmatnya membaca Al Qur’an, ber-zakat, shadaqah, shalat wajib dan sunah, dzikir, do’a, istighfar, dan amal-amal ibadah lainnya.


Salah satu yang sangat dianjurkan pada bulan ramadhan ini adalah “memperbanyak membaca AlQur’an”, karena al Qur’an kelak akan memberikan syafa’at kepada yang membacanya di hari akhir kelak. Seperti dalam sebuah hadist, dari Abdullah bin Amr bin Al’Ash, ia berkata: bahwa Nabi SAW, bersabda:”Berpuasa dan membaca Al Quran akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak. Amalan puasanya akan berkata: Ya Allah, aku telah melarangnya dari makanan, minum dan nafsu syahwat pada siang hari, sehingga ia telah menitipkan syafa’at kepadaku. Sedangkan amalan membaca Al Quran berkata: Aku telah melarangnya tidur pada malam hari, sehingga ia telah menitipkan syafa’at kepadaku di dalamnya. Maka keduanya pun memberikan syara’at.” (HR Ahmad dengan sanad shahih)


Ramai dan merdunya bacaan Al Qur’an di malam-malam bulan Ramadhan menjadi sebuah tanda, begitu agungnya firman-firman Allah itu. Hal lain yang membuat Al Qur’an sangat dianjurkan untuk dibaca di saat bulan ini adalah, karena bulan ramadhan adalah bulan di mana Al Qur’an itu diturunkan, dan Al Qur’an itu adalah petunjuk bagi umat manusia.


"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)" (QS. 2:185).


Selain itu, di bulan Ramadhan ada satu malam yang paling indah dalam kehidupan manusia, lebih baik dibandingkan dengan nilai seribu bulan, yaitu lailatul-qadar. "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikatmalaikat dan malaikat jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan : Malam itu (penuh) kesejahteraan sampat terbit fajar." (QS. 97:1-5)


Kemudian dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Al-Quranul Karim.


Hal itu menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Quran pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk itu, juga membacakan Al-Quran kepada orang yang lebih hafal. Dan juga menunjukkan dianjurkannya memperbanyak bacaan Al-Quran pada bulan Ramadhan.


Sedangkan tentang berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari Al-Quranul Karim, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :"Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya. " (HR. Muslim).


Sungguh betapa agungnya Al Qur’an ini, karena sesungguhnya Al Qur’anul Karim merupakan  dzikir yang paling agung. Allah pun telah menjanjikan pahala yang begitu melimpah dan berlipat ganda bagi hambaNya yang membacanya, seperti sabda Nabi:   Dari Ibnu Masud radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. " (HR. At-Tirmidzi,  hadits hasan shahih).


Lalu, apalagi yang masih menghalangi kita untuk terus membacanya. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk memperbanyak tabungan pahala kita dengan terus memakmurkan hidup kita dengan bacaan –bacaan Al Qur’an di bulan Ramadhan ini.


Ada sebuah kisah tentang dahsyatnya Al Quran,  yaitu dari Abu Umamah r.a. yang berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Quran, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Quran."


Telah bersabda Rasulullah S.A.W :


Belajarlah kamu akan Al-Quran, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya. Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, "Kenalkah kamu kepadaku?"


Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"



Maka berkata Al-Quran : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."


Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Quran itu : "Adakah kamu Al-Quran?"


Lalu Al-Quran mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.


Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"



Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Quran


Maha suci Allah swt., yang telah menurunkan firmanNya untuk kita umat muslim kepada Nabi Muhammad saw. Tak pantas kita menelantarkan firman agung allah itu, karena Al Qur’an itu yang akan menghantarkan keselamatan kita kelak di hari kiamat. Bulan Ramadhan, adalah kesempatan kita untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah, memperbanyak amal ibadah kita, karena kita tak akan tau, apakah esok hari kita akan mampu melihat mentari pagi atau tidak.


Semoga Bulan Ramadhan ini, kita kan mampu menabung gunungan pahala tuk bekal kita kelak. Membaca AlQur’an adalah salah satu jalannya. Ramaikan malam-malam penuh keagungan ini dengan lantunan ayat-ayat suci-Nya karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Seperti dinyatakan dalam firman Allah : "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu ), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. "(Al-Muzzammil: 6).


 


Wallahu a’lam bishowab


 


_hez ,,dg berbagai sumber_


­


 


I believe, I can do it

 

I believe, I can do it





“Kurang 15 menit lagi,, ya Allah aku belajarnya belum selesai ney, gimana ya??? Uaduh pusiiiiiing, kalau belajar sekarang juga gag bakalan masuk, gimana dong??? Ya Allah, bantu aku….” Keluh si Mia.

“Hmm… udah tenang aja mi, aku aja bawa contekan ney, hehehe, siiip gag, ntar aku bantuin deh, tenang aja…” cetus Romi.

“Hah????” Mia kaget.

“Iya, napa?? Mau gag??” tawar Romi.

“Emm………………………....”

Mia masih terus berpikir untuk menjawab tawaran temannya itu.



Terus, menurut teman-teman apa ya, reaksi mia?? Apa ia akan menolak, atau langsung menyetujuinya?? Untuk mendukung Mia memberikan jawaban terbaik pada Romi, sebelumnya kita bahas yuk, kira-kira jawaban terbaik apakah yang harus ia berikan?



Teman-teman masih ingat tidak dengan pelajaran SD dulu, ketika guru kelas 1 atau 2 kita mengajarkan kita tentang pelajaran budi pekerti luhur yaitu PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) bab jujur. Ingat kan?? Apalagi, ditambah dengan palajaran Pendidikan Agama Islam yang sedari SD sudah diajarkan. Bahkan dari kanak-kanak pun kita sudah diajarkan bagaimana bersikap jujur pada diri sendiri oleh kedua orang tua kita. Jadi, tak dapat kita pungkiri bahwa sebenarnya kita sudah benar-benar tahu bagaimana hakikat kejujuran itu. Hanya saja, mungkin dari diri kita sendiri yang belum mampu mengamalkan sikap tersebut. 



Sebenarnya akhlak terpuji itu dapat kita lakukan setiap hari, setiap saat dan setiap waktu yaitu dengan berlatih dan terus berlatih. Salah satu hal yang dapat membantu kita istiqomah adalah kejujuran adalah dengan “mengingat mati”. Tahukan teman, akhlak jujur itu adalah akhlak yang sungguh sangat mulia, salah satu akhlak dari suri tauladan kita, baginda Rosul, nabi Muhammad saw. Jadi, ketika kita mampu mengaplikasikan akhlak mulia tersebut, maka di mata Allah pun kita kan mulia. Tidak senangkah jika kita diberi nilai yang sangat indah oleh sang Rabb kita???. Iya, mungkin kita tidak akan tau apakah itu benar atau tidak, tapi kita yakin bukan, karena Allah itu ada. Mungkin satu hal yang sering membuat kita ragu, yaitu karena kita tidak lang sung mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah di dunia ini, tapi yakinlah, Allah akan membalas semua perbuatan kita suatu saat nanti, tanpa kita duga.

Mungkin banyak anggapan yang sering muncul serta sering merecoki pikiran kita, yaitu bahwa “orang jujur itu akan ajur”. Tapi apakah benar anggapan itu? Mungkin jika standar penilaian itu di dunia, mungkin bisa saja, tapi sebenarnya nikmat yang didapat dari orang yang tidak jujur itu hanyalah semu dan hanyalah nikmat yang tak diridhoi oleh Allah, itu hanyalah kebohongan belaka, hanya nikmat dunia saja yang tidak kekal, dan akan berakhir dengan cepat. Misal saja jika kita bohong pada saat ujian, kita tidak jujur dalam mengerjakan ujian, lalu mencontek teman, mungkin hasil yang didapat akan bagus, ya, tapi itu dimata manusia, tapi apakah dimata Allah seperti itu? Jawabannya tidak. Allah sebenarnya menilai setiap pekerjaan manusia tidak berdasarkan hasilnya, tetapi berdasarkan prosesnya. Proses yang baik akan mendapat balasan yang baik oleh Allah, begitu pula sebaliknya. Lalu apa yang membuat kita ragu untuk berbuat jujur? Apakah karena prioritas kita ‘nilai’ atau ‘IPK’ yang bagus? IPK atau nilai yang bagus dapat kita peroleh dengan benar-benar memanfaatkan belajar kita yang maksimal, insyaallah hasilnya pun akan maksimal. 

Terlepas dari masalah itu, coba kita sedikit membayangkan kemungkinan terpahit yang akan kita dapatkan ketika kita tidak jujur. Seperti yang tadi di awal kita bahas, bahwa kunci kejujuran adalah dengan “mengingat mati”. Teman-teman, coba sejenak kita bayangkan dan pikirkan, bagaimana jika ketika kita sedang mencontek (tidak jujur) pada saat ujian, tiba-tiba Allah memanggil kita. Allah mengirimkan malaikat pencabut nyawanya ‘izrail untuk mngambil ruh kita saat ujian, apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita sempat bertaubat? Apakah kita sempat untuk meminta Allah menunda kematian kita? Tidak bisa, tak akan bisa yang menghentikan kehendak Allah, dan kita pun tak tau, kapan kita akan dipanggil oleh Allah untuk menghadapnya. Lalu, dapatkah kita bayangkan ketika kita sedang enak-enaknya mencontek, tiba-tiba ruh ini terlepas dari jiwa yang kekar ini? Kemudian, apa,yang dapat kita berikan dan pertanggungjawabkan kepada Allah? Kita meninggal di saat sedang melakukan hal yang tidak jujur, apakah Allah akan memaafkan kita? Apa kita sempat meminta ampun kepada Allah? Lalu, jika kita begitu, berarti kita meninggal dalam keadaan bagaimana? Dalam kondisi yang sangat tak diridhoi Allah bukan? Iya, dalam kondisi su’ul khotimah, na’udzubillahi mindzalik, semoga kita tidak mendapatkan kondisi seperti itu.

Ada beberapa firman Allah yang mengatakan:



فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

artinya: “Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (QS. An-Nahl: 61)



وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا

artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang ajal/waktunya.” (QS. Al-Munafiqun: 11)



Seperti itulah teman, tak ada yang tau sampai kapan umur kita, dan dengan jalan bagaimanakah kita akan dipanggil Allah, serta disaat seperti apa kita akan bertemu denganNya. Tentu kita menginginkan pertemuan yang sangat indah bukan dengan sang Rabb, lalu apa yang menunda-nunda kita untuk terus mempersiapkan tiap detik nafas kita dengan segala kebaikan. Sesungguhnya tiap detik yang berlalu, itu menandakan bahwa jatah umur kita pun juga sudah berkurang. Kita tak tau apa dan bagaimana kehendak Allah. Memang hidup mati seseorang sudah ada yang menuliskan, tapi kita sebagai hamba Allah bukankah perlu mempersiapkan yang terbaik pula untuk bertemu pada Raja Diraja kita, kita harus membawa amal dan kebagusan Akhlak sebanyak mungkin, karena itulah bekal kita untuk di akhirat nanti, tempat hidup kita yang sebenar-benarnya, yang akan kekal selamanya. 

Oleh karena itu, mari perbanyaklah amal shalih, lalu berjihadlah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersegeralah kepada kebaikan. Sehingga ketika disuatu saat malaikat izrail mendatangi kita, maka kita sudah siap dengan semua “tabungan akhirat” kita, dan semoga kita dipanggil Allah dalam khusnul khotimah, amin ya rabbal ‘alamin.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan perasaan cukup dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang?”(At-Tadzkirah,hal.9)



Bagaimana teman-teman, dengan sedikit uraian di atas masihkah kita tak akan jujur? Padahal setiap detik kematian itu mengintai kita. Lalu, apakah kita mau perbuatan tak jujur itu akan mengantarkan kita ke pintu Allah? Nauzhubillahi mindzalik, semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan yang tak diridhoi-Nya.Amin.



Hmm… Alhamdulillahirobil’alamin, sedikit uraian yang panjang, insyallah ini akan membantu Mia untuk menjawab tawaran Romi. Jadi, teman-teman dah tau kan, apa yang akan dikatakan oleh Mia, mari kita simak kembali lanjutan percakapannya.



“Emm…. Gag deh, makasih, aku takut ma allah, nanti kalau tiba-tiba pas ujian aku meninggal gimana?? Aku kan gag mau masuk neraka… iih… nauudzubillahimindzalik…” celoteh si Mia.

“emang mpe segitunya Mi?? jangan nakut-nakutin gitu Mi!!! aku kan jadi merinding… ” timpal Romi.

“ya, kan kita gag tau kapan kita akan mati, yang penting persiapkan bekal yang terbaiklah buat kita..gitu,, OK!!! Tujuan kita kan surga Allah toh?? So, ayo, kita cari deh ridho Allah sebanyak-banyaknya…” jawab mia.

“oh iya yah, ok deh… sip sip sip, aku juga mau masuk ke surga Allah kog..”jawab Rio Semangat.

“yupz, kamu juga masih ingat kan, ada salah satu ayat Allah yang berbunyi seperti ini, كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ, artinya: “Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati"

So, mari kiat persiapkan bekal yang sebanyak mungkin… no cheating until the end ya???”

“Ok deh, nih, contekannya aku buang, insyaallah aku pasti bisa!!” tukas Romi.

Tiba-tiba bel berbunyi,tanda ujian sudah masuk.  

Tak lupa, kemudian mereka berdua berdoa,“Bismillahirrohmanirrohim, ya Allah mudahkanlah kami dalam mengerjakan ujian ini, sesungguhnya Engkaulah zat yang mengetahui hal yang terjadi sesudah dan sebelumnya. amin yrb”  



So, marilah teman, berbekalah kebaikan, Persiapkan amal shalih dan jauhi kedurhakaan kepada-Nya! Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.



Semoga sukses Ujian… amin ya robbal ‘alamin…

Semangat!!! ^^





_alone with luph_