Sahabat, “ia” tak akan datang kedua kali, kesempatan ini hanya sekali dalam hidup, ketika sang keputusanmu tak segera kau luncurkan, maka kesia-siaanlah yang menghampirimu.
“Ia” mungkin susah, bahkan sangat mengganggu pikiranmu, ketika tak kunjung ada kesepakatan antara diri (hati ini, qalbu), dengan fihak luar sang penanggung hidupmu.
Benar, hal yang paling indah, ketika kau sudah wacanakan dan bicarakan dengan lembut, baik, hingga diterima “ia” di hadapannya dengan tangan terbuka, tanpa keluh atau syarat sama sekali.
“ia” bagai dawai yang begitu lembut, mampu mengubahmu menjadi pejuang tanpa tanding, pejuang ksatria, pejuang tahan banting, dan pejuang berakhlak islami.
“ia” kadang menyusahkanmu, tapi “ia” mencoba melatihmu sedikit demi sedikit untuk gempuran dahsyat yang tak tau kapan akan menghampirimu.
“ia” meminta waktumu banyak sekali, hingga keluanganmu habis tak tersisa, tetapi disitulah kau dilatih menggunakan waktu terindah dalam hidupmu, tanpa menyia-nyiakan sedetikpun.
Kadang “ia” merampas paksa waktu tidurmu, hingga tak terasa pagi menjelang, dan kau cukup menaruhkan senyum kepadanya.
“ia” tak dapat kau temui di sembaang tempat, karena “ia” istimewa untuk yang “teristimewa”, ialah kau.
Dan “ia” akan menjadi kawan sejatimu menghadapNya di kelak, bahkan “menemanimu” menghantarkan jalan terindahmu semasa hidup pada para hakim, sang malaikat.
“ia” lah sang pendampingmu “AM*NAH”
LALU, MASIHKAH KAU MERAGUKANNYA???
~~hz~~
